Seni Dan Budaya Di Batam

Posted onJuli 20, 2025

Apa yang pertama kali terlintas di kepala Anda begitu mendengar Batam? Pulau yang juga merupakan kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau ini sering kali dikenal sebagai kawasan transit perdagangan atau komoditas karena lokasinya yang sangat strategis, terutama di jalur pelayaran. Selain itu, banyak juga orang yang mengenal Batam sebagai destinasi untuk disinggahi jika mereka akan pergi ke Singapura, termasuk untuk berlibur.

Tidak ada yang berubah, hanya atap dapur yang dulunya rumbia kini diganti seng dan sebagian papan lantai

Haji Muhammad Tain

Padahal, Batam juga memiliki daya tarik tersendiri yang membuatnya juga layak untuk dijelajahi sebagai tujuan wisata Anda berikutnya! Apalagi sudah ada berbagai Paket Tour Batam yang menarik untuk Anda pilih agar liburan Anda di Batam semakin mengesankan dan nyaman.

Nah, sebelum Anda akhirnya berangkat untuk berlibur ke Batam, alangkah baiknya jika Anda kenali dulu berbagai seni dan budaya Batam yang unik dan pastinya menarik. Apalagi ada pengaruh budaya Melayu di dalam budaya Batam, mengingat letak geografisnya.

Aneka seni dan budaya di Batam :

Rumah Adat di Batam

Tak jauh dari pantai wisata Batubesar, Nongsa terdapat rumah adat masyarakat Kepulauan Riau (Kepri) yang dinamakan Rumah Limas Potong. Rumah panggung milik keluarga Haji Muhammad Tain ini kontras dengan rumah-rumah yang ada di sekitarnya. Bentuknya dipertahankan sebagaimana bentuk aslinya. Hanya beberapa bagian saja yang diganti.

Rumah Limas Potong di Batubesar, Nongsa.

Berdiri di antara rimbunnya kebun kelapa dan dekat dengan pantai memberi nilai tambah bagi rumah yang jadi objek wisata ini, yakni suasana kampung Melayu tempo dulu. Rumah adat yang tepatnya berada di Kampung Teluk, Batubesar, Kecamatan Nongsa, ini berdiri sejak 1 November 1959 sesuai dengan angka yang tertulis di atas pintu masuk.

”Tidak ada yang berubah, hanya atap dapur yang dulunya rumbia kini diganti seng dan sebagian papan lantai,” ujar pria yang masih kelihatan segar di usianya yang sudah ke 83 ini ketika menemani Batam Pos melihat dari dekat rumahnya itu, awal pekan lalu.

Rumah ini memanjang ke belakang, dibagi menjadi lima ruangan. Dindingnya berwarna cokelat susu yang dikombinasikan dengan warna kuning les putih (cat minyak) di jendela. Sedikit warna hijau di profil daun jendela bagian luar dan dalam. Begitupun dengan pintunya.

Sedangkan atap sengnya berwarna merah dove, dan dinding bagian dalam berwarna biru muda.”Kalau warna dinding bagian dalam memang begitu dari dulu, sedangkan yang di luar dulu tidak dicat,” ungkap Tain sembari membetulkan letak songkok hajinya. Tinggi panggung dari tanah sekitar 1,5 meter. Kokoh berdiri ditopang pilar kayu medangkuk di setiap sisinya, kayu asli Batam.”Pohon medangkuk dulu banyak di sini, sekarang susah nyarinya. Kayunya kuat,” jelasnya.  Untuk meyakinkan,  lelaki yang kini tinggal tak jauh dari rumah Limas Potong ini menunjukkan papan pengganti.”Lihat papan ini, kumbang akan suka melubanginya,” sambil menunjukkan papan  pengganti lantai di bagian dapur.

Ruang pertama dari Rumah Limas Potong adalah teras. Tidak luas namun nyaman untuk bercengkrama. Ruang ke dua adalah ruang tamu yang bentuknya melebar, dibiarkan kosong tanpa perabotan. Setelah melewati ruang tamu, kita akan menuju ruang keluarga yang luasnya hampir sama dengan ruang tamu, bedanya ruangan itu disulap seperti sedang ada hajatan pengantin. Lengkap dengan diorama pengantin Melayu dan pernak-perniknya, seperti hantaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *